Sejarah
Busana dan Sepatu di Era Hawthorne: Membayangkan Penampilan Tokoh-Tokoh The House of the Seven Gables
Saat membaca novel klasik, kita sering membayangkan penampilan para tokohnya. Pakaian dan sepatu di New England pertengahan abad ke-19 tidak hanya soal gaya, tetapi juga menunjukkan kelas sosial, usia, dan sikap hidup seseorang.
Bagian IHepzibah dan Kebangsawanan yang Memudar
Hepzibah Pyncheon adalah perempuan tua dari keluarga terpandang yang jatuh miskin. Pakaiannya yang usang namun berusaha rapi mencerminkan kebanggaan keluarga yang tetap ia pertahankan meski harus membuka toko kecil untuk bertahan hidup.
Bagian IIJudge Pyncheon dan Simbol Kekuasaan
Hakim Jaffrey Pyncheon digambarkan sebagai pria terhormat dan berpengaruh. Setelan mahal, rompi, dan tongkat berlapis emas menjadi lambang status sosialnya, sekaligus topeng yang menutupi sifat aslinya.
Bagian IIISepatu dan Kehidupan Sehari-hari
Pada masa itu, sepatu kulit dibuat oleh pengrajin atau pabrik-pabrik yang mulai berkembang di Massachusetts. Sepatu diperbaiki berulang kali karena harganya tidak murah. Sepatu perempuan umumnya bertumit rendah dengan kain atau kulit tipis, sedangkan sepatu bot kokoh dipakai untuk bekerja dan bepergian.
Kota Lynn di dekat Salem bahkan dikenal sebagai salah satu pusat industri sepatu Amerika pada abad itu.
Bagian IVMembaca Detail Busana
Hawthorne sering menggunakan detail pakaian untuk menggambarkan karakter. Perhatikan deskripsi busana saat membaca untuk menangkap petunjuk tentang kepribadian tokoh.